Catatan Perjalanan: Surakarta dan Semarang

*akhirnya posting blog setelah vakum beberapa bulan*

Libur kepepet di bulan Maret kemarin saya dan tiga orang teman kantor (sebut saja mereka Dike, Haries, Reza) alhamdulillah lancar diberi cuti bersama yang tidak memotong gaji. Berikut jadwal perjalan kami:

24-25 Maret 18:55 – 04:00 (+1) Lodaya Malam

Bandung – Solobalapan

25 Maret Menikmati dan bermalam di kota Surakarta
26 Maret 05:25 – 08:15 KA Lokal: Kalijaga

Solobalapan – Semarang Poncol

26-27 Maret Menikmati dan bermalam di kota Semarang
27-28 Maret 17:35 – 02:00 (+1) Ciremai Ekspres

Semarang Tawang – Bandung

Tiket pergi-pulang dibeli satu bulan sebelum berangkat secara online impulsif di mesjid kantor kami. Memang ada keinginan untuk memanfaatkan waktu libur panjang akhir pekan, harus dipakai yang menyenangkan dan baru!

Pertama kalinya akan menuju kota Surakarta atau Solo (belum baca sejarahnya kenapa ada nama resmi dan nama populer ini). Berangkat dari stasiun Bandung sekitar pukul 19:00, kereta yang kami naiki tetiba hampir kosong karena banyak penumpang yang turun di Yogyakarta, lumayan masih jadi destinasi utama ya Yogya. Satu jam dari Yogyakarta, sampailah di stasiun Solobalapan pukul 04:00.

Hotel di Surakarta: Twin Star Hotel (dipesan lewat Travel***), dapat diskon 30%, jadi per kamar Rp 140.000 tanpa sarapan, maksimal diisi dua orang. Jadi @orang 70rb/malam.

Dari stasiun Solobalapan cukup jalan kaki 400 m, tapi agak seram juga pukul 05:00, masih gelap, kami menemukan tulisan ini:

Hhaha biarlah yang penting kita baik-baik saja selamat sampai hotel. Di hotel titip barang yang bisa ditinggal lalu mulai jalan kaki ke halte bis terdekat. Sambil cari makanan dan sarapan (entah nama jalannya apa lupa maafkan) kami menemukan tiga penjual makanan di pagi hari: sate ayam+lontong, nasil pecel, bubur-bubur manis. Soal rasa sudah pasti enak lah, apalagi kalau kelaparan, tapi yang lebih sedap adalah harganya yang untuk ukuran manusia berKTP Kota Bandung mah bisa dibilang murah pisaaan. Nasi pecel+telor ceplok+tempe goreng (potongan besar)  hanya Rp 6.000 saja. Girang karena porsi besar dan murah, kami coba jajan lagi bubur manis beragam warna seharga Rp 5.000. Bahannya macam-macam, penyajiannya juga pakai pincuk/daun pisang menambah citara kearifan lokalnya.

nasi pesecel kearifan lokal

Beres makan lanjut ke daerah keraton naik bis trans batik solo (Tarif Rp 4.500 rata). Sampai di aera gerbang keraton, yang ada patung pahlawan Slamet Riyadi, lalu jalan terus sampai akhirnya tahu kalau keratonnya masih tutup. Ketika itu sekitar pukul 7:00, keraton buka pukul 9:00, walhasil kita berbalik arah untuk berkeliling saja pakai bis tanpa arah. Setelah masuk bis, baru lah diputuskan untuk pergi ke kampus Universitas Sebelas Maret (disingkat, UNS, kenapa gak USM? hahah). Tujuan utama kita adalah mesjid, selain untuk menenangkan pikiran dan jiwa, kaki dan perut juga perlu diistirahatkan. Seperti biasa kita dikira mahasiswa lokal, ditanya “fakultas teknik sebelah mana ya, Mas?” sampai dua kali. Di dalam kampus ini ada empat tempat ibadah agama yang diakui di Indonesia. Ada mesjid, gereja, pura, dan vihara. Hebat ya bhinneka tunggal ika sekali kampusnya. Sampai mesjid kita istirahat dan buang-buang yang bikin lega, karena tak ada tempat senyaman buang di mesjid. Beres dari UNS, kita naik gojek untuk kembali ke gerbang, pakai gopay saya cuma bayar Rp 2.000 walaupun sedikit terjadi kesalahpahaman alias salah angkut penumpang haha.

Tujuan selanjutnya adalah naik kereta bis/railbus Batara Kresna. Itu loh kereta khas di Solo yang rel nya melintasi jalan raya Slamet Riyadi. Kita naik dari stasiun Solokota, tarif hanya Rp 4.000 sampai ke Wonogiri. Keretanya secara fisik cukup unik karena berbeda dengan kereta biasa di Indonesia, lebih mirip dengan kereta listrik di negara-negara maju! Sepanjang perjalanan awalnya cukup asik melihat kearifan lokal di sepanjang rel, tapi lama-lama bosan melihat sawah terbentang tak hentinya, sampai berhenti di Wonogiri. Akhirnya nginjek dan makan di Wonogiri walau cuma 20 menit saja.  Ketika sampai, langsung beli tiket pulang ke stasiun Purwosari (di Solo) karena itu adalah perjalanan terakhir si kereta menuju Solo. Sampai di stasiun Purwosari langsung antri untuk beli kereta lokal Solo-Semarang (Kalijaga), antriannya panjang tapi terbayar karena harga tiketnya hanya Rp 10.000/orang. Mau ke Keraton, hujan besar, selagi antri beli tiket hujan terus turun tak hentinya. Sesampainya di keraton, sudah tutup, akhirnya memutuskan untuk pulang saja check-in hotel. Perjalanan ke hotel kembali disponsori oleh gojek hanya Rp 3.000. Malamnya kami putuskan untuk pesan lewat go-food dikarenakan hujan dan mager di kasur. Lupa pesan dari restoran apa, yang pasti pesan sate buntel kambing dan nasi goreng jawa plus bekal nasi kotak untuk sarapan esok harinya total hanya Rp 42,5 rb saja.

Di dalam kereta Batara Kresna. Rute Wonogiri-Purwosari (Solo)

 

DARI SOLO KE SEMARANG

Kami naik kereta kalijaga, sudah bergegas dari hotel ke stasiun jalan kaki pukul 04:45, keretanya berangkat pukul 05:20. Walapun tiket sudah tertera nomor kursi, namun di dalam kereta posisi tempat duduk agak kacau. Berhubung tempat duduk saya ditempati pasangan kakek-nenek, kami segan berdebat dengan orang tua (walau awalnya saya coba memberitahu mereka kalau itu tempat saya), bisi pamali dan lagian sudah dapat duduk persis di depan mereka.

Sampai di stasiun Semarang Poncol sekitar pukul 08:15, disambut hujan cuku deras. Perjalanan dari stasiun menuju hotel disponsori oleh go-car, dengan cara naik agak jauh dari stasiun. Sampai di Sumi Hotel, agak sedikit gusar karena pesanan hotel saya hanya dianggap satu kamar. Tapi akhirnya diberi dua kamar seperti yang dipesan (walau ada masalah kamar bau rokok akhirnya minta pindah kamar, wek). Leha-leha dulu di lobby hotel sambil menuju hujan reda dan kita menitipkan barang-barang.

Berhubung mol ciputra sangat dekat dengan penginapan, jadilah tujuan pertama. Gak asik jauh-jauh ke Semarang mainnya ke emol juga, emol yang lebih cantik mah di Bandung Juaranya, tapi ke sini untuk menghabiskan waktu selagi hujan masih turun. Keluar mol menuju Lawang Sewu, disponsori oleh bis trans Semarang (mbak kondekturnya jutek, malah ada kakek yang baik hati menjelaskan tentang Semarang).

Di Lawang Sewu hari Minggu, sudah pasti banyak sekali turis-turis. Kita juga turis, tapi bukan turis biasa yang cuma selpi (swafoto! haha) dan foto sana-sini, kita menyewa jasa pengarah wisata alias tour guide. Awalnya gak jelas ini prosedur mau sewa jasa guide, akhirnya tanya ke penjaga gerbang/satpam dan mereka memanggil guide lewat walkie-talkie. Tarif Rp 50.000/sekali jasa, langsung di bayar ke Bapak nya di akhir tur. Lupa nama Bapaknya siapa hahahh, yang pasti merasakan menjadi turis yang sesungguhnya karena dulu ketika berkunjung ke sini bersama rombongan besar, tidak begitu terasa turisnya. Semakin kagum akan kecerdasan orang Belanda dalam membuat bangunan, kualitas dan desain sangat baik serta beyond thinking atau apa ya, berpikir ke depan dengan segala risiko yang akan dialami si bangunan. Lepas masa penjajahan, oleh orang lokal malah dipakai uji nyali dan ilmu-ilmu aneh ckck. Ruangan bawah tanahnya sekarang ditutup untuk publik karena itu tadi banyak yang cari ilmu aneh-aneh, padahal saya penasaran ingin masuk.

Lanjut ke kuil Sam Po Kong. Di sini juga sama kita sewa jasa pembimbing tur, sayangnya hanya satu orang saja. Si Mas nya agak curhat karena teman-temannya mengundurkan diri dari pekerjaan pemandu wisata di Sam Po Kong dan beralih ke pekerjaan lain. Itu selintas tentang si Mas Guide nya. Berlanjut ke isi turnya, kisahnya ini mirip-mirip sungokong si kera sakti. Karena sama-sama berasal dari Tingkok, saya pikir ini kuil Buddha, ternyata kuil Kong Hu Cu yang mendewakan Laksamana Cheng Ho. Fakta lainnya, baru tahu kalau Cheng Ho ini memang muslim sejak lahir, saya kira muallaf. Secara keseluruhan saya senang dengan tur kali ini karena mendapatkan penjelasan secara privat dari pemandu wisata.

DIFOTOIN MAS PEMBIMBING TUR

Malam hari setelah mandi, saya cari makan di sekitar simpang lima. Kan banyak tempat makan tuh, saya milih tempat makan yang paling ramai saja, akhirnya jatuh ke pelukan *salah* ke warung Mbok Sador

Makanan plus minum teh tawar total Rp 17.000.

Enakkk ditambah lagi murah. Di Semarang ini lebih banyak jajan makanan lokal…

 

*** bersambung

 

 

 

 

 

 

Advertisements

About feriyadiramen

tukang baca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: