Empat Windu Universitas Terbuka: Dari Guru, Anak Muda, hingga Tenaga Kesehatan

Di awal tahun ini saya resmi lulus dari program studi Biologi Universitas Terbuka (UT). Perjalanan selama tiga tahun menempuh berbagai rangkaian perkuliahan jarak jauh, praktikum basah di laboratorium, hingga ikut serta dalam kegiatan Dies Natalis ke-30 dan ke-31 tidak terasa cepat berlalu. Namun periode tiga tahun yang saya tempuh bersama UT rasanya belum sebanding dengan perjuangan dan perkembangan UT sejak berdiri di tahun 1984. Di tahun 2016 ini genap melangkah ke usia 32 atau empat windu, meskipun termasuk universitas negeri yang relatif muda, UT telah melalui berbagai perkembangan dan pencapaian demi memberikan akses pendidikan tinggi bagi rakyat Indonesia.

 

Windu Pertama (1984 – 1992)

Pada awal tahun 80-an, meningkatnya permintaan akan pemenuhan pendidikan tinggi menjadi permasalahan di Indoneisa. Berdasarkan kebutuhan tersebut, sistem perguruan tinggi jarak jauh (PTJJ) dianggap sebagai solusi untuk memecahkan masalah tersebut.

Di awal pendiriannya berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 41 Tahun 1984, UT memiliki tujuan yang pada intinya ialah memberikan kesempatan dan layanan pendidikan tinggi bagi Warga Negara Indonesia (WNI) di mana pun ia tinggal dan para pekerja yang tidak dapat mengikuti perkuliahan di perguruan tinggi tatap muka. Ditambah mandat presiden saat itu, Soeharto, untuk meneruskan proyek pendidikan guru dan menyerap calon mahasiswa yang tidak lolos di seleksi masuk ke perguruan tinggi negeri konvensional.

ut

Prof. Setijadi, Rektor Pertama Universitas Terbuka

Pada saat pertama dibuka untuk publik, 50.000 mahasiwa mendaftar melalui seleksi penerimaan mahasiswa baru (sipenmaru) ketika itu. periode awal ini, UT memiliki kurang lebih 15 program studi S1, 20 program studi diploma, dan satu program studi sertifikat dan program akta mengajar. Di windu pertama ini terlihat bahwa UT memberikan kesempatan pada tenaga pengajar atau guru untuk mendapatkan akta mengajar demi meningkatkan kompetensinya. Meskipun mengalami proses jatuh bangun bahkan sebelum resmi berdiri pun, para pendiri UT seperti Setijadi, Jusuf Enoch, Rachmat  Wiradinata, Sigit Muryono, Atwi Suparman, berusaha sekuat tenaga untuk mendirikan UT dan menciptakan sistem PTJJ yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan Indonesia saat itu.

Windu Kedua (1992 – 2000)

Dilakukan beberapa hal pada periode 90-an ini, antara lain: perubahan kurikulum, penetapan sistem alih kredit yang dapat dipercaya, pengkajian modul bahan ajar, pengkajian model bantuan akademik dan layanan mahasiswa, pengkajian sistem evaluasi hasil belajar. Sejak awal pendirian, program sertifikat guru dan program guru pendidikan dasar menjadi yang paling tinggi jumlah peminatnya. Karena itu di UT sangat dikenal istilah ‘Program Pendidikan Dasar/Pendas’ dan ‘Program Non Pendas’.

Windu ketiga (2000-2008)

Di periode yang disebut era ‘millenium’ ini UT telah semakin matang dengan berbagai kemajuan khususnya di bidang teknologi media pembelajaran. Menurut Gorky Sembiring di buku 28 Tahun Universitas Terbuka Melayani Bangsa, pada periode 2000 hingga sekitar 2010, UT tidak hanya menjadi alternatif, tetapi sudah menjadi pilihan bagi siapa saja yang ingin meneruskan ke pendidikan tinggi. Sejak tahun 2001 pun sistem jaminan kualitas terus meningkat, reformasi birokrasi pun dilakukan.

Windu keempat (2008-2016)

Semakin berkembang dan majunya teknologi informasi (TI), membuat UT terus meningkatkan segala sistemnya yang dapat didukung oleh TI. Terutama di masa kepemimpinan rektor saat ini, Ibu Tian Belawati, yang sangat mengedepankan TI untuk segala urusan di UT agar semakin kuat, rapi, dan efisien. Terasa oleh saya pribadi ketika menjalani perkuliahan, akses ke situs tutorial dan fasilitas dry lab cukup membantu dalam mempersiapkan dan memahami materi. Bahkan sedang disiapkan pula pendirian studi tingkat doktoral oleh tim khusus UT.

 

Dari Guru, Anak Muda, hingga Tenaga Kesehatan

Sudah sangat dikenal sejak awal pendirian bahwa UT menjadi pilihan para guru untuk peningkatan kompetensinya. Selain merupakan mandat presiden Soeharto untuk mendidik para guru, di tahun 80-an pun guru SD masih didominasi alumni Sekolah Pendidikan Guru (SPG) atau Sekolah Guru Agama (SGA).

Sejalan dengan program pemerintah untuk lebih memperhatikan daerah yang dikategorikan terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), UT dipercaya untuk menyalurkan beasiswa pendidikan bagi mahasiswa di daerah 3T. Sejak masa registrasi 2013.2 hingga 2015.1, sebanyak 4.059 mahasiswa program Pendidikan Dasar (Pendas) UT mendapatkan beasiswa 3T ini. Sasaran program ini adalah guru kelas pada tingkat SD/MI yang bertugas di daerah 3T, PNS maupun non-PNS. Sementara kriterianya ialah berijazah D-II PGSD/PGSD/PGMI, usia maksimal 45 tahun, dan lolos seleksi administrasi dan wawancara oleh UPBJJ UT.

waldetris

Waldetrodis Palbeno (diambil dari “Buku Profil UT: 31 Tahun Universitas Terbuka Melayani Bangsa“)

Salah satu penerima beasiswanya ialah Waldetrodis Palbeno yang tinggal di daerah Tubu, Kabupaten Timor Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Sejak tergeristrasi pada prodi S1 PGSD di 2013.2, ia dengan gigih mengikuti perkuliahan di Pokjar Kefamenanu, Timor Tengah Utara yang jarak tempuhnya sekitar tiga jam dengan angkutan umum yang hanya berangkat dan pulang satu kali per hari. Ibu Waldet adalah guru honorer di SDN Tubu dengan gaji per semester hanya Rp 250.000, yang berarti hanya mendapatkan sekitar Rp 45.000 per bulan. Di desa tempat tinggalnya, ia rajin membaca modul UT di siang hari karena pada malam hari di rumahnya hanya ada dua lampu 5 Watt yang merupakan jatah tiap rumah. Karena daya listrik di desanya yang terbatas, listrik pun hanya tersedia dari pukul 18:00 hingga 21:00, di luar jam itu menggunakan lampu pelita (lampu api). Ia dan keluarganya sangat senang ketika Waldet mendapatkan beasiswa 3T ini. Waldet berharap beasiswa 3T banyak diberikan bagi mahasiswa di daerah 3T lainnya.

tubu

Jarak dari Tubu ke Pokjar Kefamenaru

 

Berdasarkan data di laman UT dalam angka data per 7 Juni 2016, terlihat bahwa kini jumlah mahasiswa paling besar berada di kategori usia <25 tahun. Sosialisasi yang gencar dan pemberian banyak beasiswa untuk lulusan SMA di beberapa tahun ke belakang ini sukses menigkatkan jumlah anak muda yang berkuliah di UT. Perlahan paradigma UT sebagai universitas untuk guru atau orang tua akan hilang menjadi universitas yang terbuka bagi semua kalangan usia, pekerjaan, dan status. Dalam ‘Buku Profil UT: 31 Tahun Universitas Terbuka Melayani Bangsa’  banyak diulas profil mahasiswa muda dari berbagai daerah yang dengan penuh semangat dan prestasi berkuliah di UT.

Pengembangan program studi yang ada di UT mengarah ke kebutuhan para pemangku kepentingan atau stakeholder yang ada. Salah satunya ialah Kementerian Kesehatan, yang menjalin Program Kerja Sama Peningkatan Kualifikasi (In Service Training) Bagi Perawat, Bidan, dan Tenaga Farmasi.

Kerja sama ini terjalin dengan latar belakang disahkannya Undang-undang Nomor 36 Tahun 2014 Tentang Tenaga Kesehatan pada tanggal 17 Oktober 2014. Poin penting pada UU baru ini ialah bahwa tenaga kesehatan harus memiliki kualifikasi minimum Diploma III. Tenaga kesehatan (nakes) di bawah kualifikasi DIII yang telah praktik diberikan kewenangan menjalankan praktik sebagai nakes untuk enam tahun setelah UU ini diundangkan, yakni hingga tahun 2020. Syarat untuk calon mahasiswa program ini ialah :

  • Pegawai Negeri Sipil Tenaga Kesehatan bidang pelayanan (aktif)
  • Usia <= 50 Tahun
  • Masa kerja >= 5 tahun
  • Pendidikan Terakhir SLTA atau D-I

Perguruan tinggi mitra yang ditunjuk UT untuk program ini adalah Politeknik Kesehatan (Poltekkes) milik Kementerian Kesehatan, salah satunya ialah Poltekkes Bandung yang kebetulan merupakan almamater saya juga selain UT. Setelah mengetahui keberadaan program ini, saya mengonfirmasi kebenarannya kepada salah satu dosen saya yang sekarang mengajar di Jurusan Farmasi Poltekkes Bandung, Ibu Dra. Ghantina Sugihartina, Apt., M.Si. Berdasarkan informasi dari beliau, Poltekkes Bandung ikut terlibat dalam pembuatan buku modul, yang kini draft nya sudah selesai dan tinggal penyelesaian layout.  Rencananya beberapa dosen Poltekkes Bandung akan menjadi tutor dan fasilitas laboratorium akan digunakan untuk praktikum mahasiswa UT di program ini namun masih menunggu keputusan dan instruksi dari Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Kesehatan Kemenkes RI. Berharap bahwa kerja sama ini dapat terus dilakukan demi meningkatkan kompetensi tegana kesehatan dalan memberikan layanan kesehatan terbaik bagi rakyat.

 

Pengalaman Bersama Universitas Terbuka

Saya adalah lulusan program D-III Analis Kesehatan yang melakukan alih kredit ke program studi S1 Biologi UT. Sebanyak 39 SKS dari program D-III diakui oleh UT sehingga dapat memotong waktu pendidikan saya. Dengan konsep yang berbeda dengan pendidikan diploma reguler, saya benar-benar mengenal suatu sistem baru yang akhirnya saya dapat belajar tak hanya materi keilmuan namun juga sistem manajemen dan teknologi yang diterapkan UT. Salut dengan perkembangan dan fasilitas digital UT yang betul-betul mewadahi kebutuhan mahasiswa yang terbatas jarak dan waktu. Saya sangat sering mengakses perpustakaan online untuk membaca buku modul dan sesekali membaca buku atau bacaan digital lain di laman UT.  Bahkan saat ini UT ikut serta dalam mengisi kursus gratis di laman www.indonesiax.co.id , yang merupakan MOOC (Massive Open Online Course) terbesar di Indonesia. Di dalamnya UT bersamaan dengan perguruan tinggi terbaik lain seperti ITB, UI, ITS, dan institusi lainnya memberikan kursus gratis dengan media video interaktif yang merupakan spesialisasi UT sebagai pionir belajar jarak jauh di Indonesia.

Setelah membaca lebih lanjut mengenai UT, terutama di Buku Profil UT, semakin sadar bahwa saya bangga terhadap almamater. Mulai dari pelayanan administrasi akademik, tutorial, ujian, praktikum, hingga lulus, secara keseluruhan saya puas dengan pelayanan UT yang sudah berumur empat windu ini. Maju terus Universitas Terbuka!

 

 

Referensi:

Buku Profil UT: 28 Tahun Universitas Terbuka Melayani Bangsa – Rektorat dan Lembaga http://lppm.ut.ac.id/sites/default/files/buku/28-tahun-rektorat-lembaga/index.html

Buku Profil UT: 31 Tahun Universitas Terbuka Melayani Bangsa – Potret Keragaman Mahasiswa UT Sebagai Pagar Bangsa

http://lppm.ut.ac.id/sites/default/files/buku/31-tahun-mhs/index.html

http://www.pdpersi.co.id/diknakes/data/penyelenggaraan_pendidikan/program_kesehatan_fmipa.pdf

 

logo32-300x225

Enter a caption

logo-ut-small-transparent“Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba blog dari Universitas Terbuka dalam rangka memperingati HUT Universitas Terbuka ke-32. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan jiplakan.”

About feriyadiramen

An INTP long life learner

One comment

  1. UT memang universitas sejuta umat ya mas…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: