Berpikir Kreatif dan Produktif dari Motivator

Beberapa bulan kebelakang saya sering membaca tulisan tentang ‘how to become more creative‘ atau ‘how to hack your daily routine job‘ dan kegiatan-kegiatan yang sering dilakukan orang-orang inspiratif dan keren. Secara keseluruhan membahas tentang harus seimbangnya antara porsi pekerjaan rutin dengan kegiatan yang membuat diri pribadi lebih segar dan kreatif karena lepas dari pekerjaan/jobdesc rutin. Tiap orang punya minat dan cara masing-masing untuk melakukannya, ada yang dengan cara melakukan aktivitas fisik, jalan-jalan ke tempat baru, atau bahkan sampai ke berdiam diri santai-santai sambil nyeruput kopi.

Sekitar dua minggu lalu, saya mendapatkan pelatihan wajib tentang cara berpikir kreatif dan menyelesaikan masalah. Saya pikir asik nih, pasti berbeda dengan pelatihan-pelatihan sebelumnya yang menurut pandangan saya tidak terlalu menarik. Pelatihan berlangsung di suatu hotel selama dua hari.

Asyik karena perjalanan menuju lokasinya yang di Bandung utara bisa lewat jalan yang teduh banyak pohon dan cenderung tidak macet. Tapi kesan di pagi hari itu berbeda setelah menjalani kegiatan sampai dengan jam makan siang: sudah kuduga, pemateri ala-ala titel ‘motivator’ hanya membuat saya makin anti dan alergi dengannya, hahaha. Ada beberapa hal kenapa saya tidak suka dengan motivator:
1. Siapa elu sih, motivator?
Diri kita pribadi paling paham dan tahu siapa/apa yang membuat kita termotivasi untuk meraih sesuatu. Bukan orang yang baru kenal lalu ngaku-ngaku penghasilan milyaran, sulit ditemui/diundang karena ‘most wanted‘, dan nge judge kita-kita para peserta adalah orang yang gak mau maju. 😑

2. Kegiatan di dalamnya.
Hmmm contohnya nih, ada sesi kita disuruh berdiri di atas kursi yang kita duduki, lalu diputarkan musik warkop DKI yang teroretroreroret, lalu kita disuruh joged2. Ada juga disuruh nepuk pundak teman di sebelah, lalu berkata: “saya orang sukses, saya mau berbubah”. What theee 😑 pokonya. Just think how people in another part of earth do their job greatly? Kalau mau joged-joged gitu mah sama temen-temen atau memang suasana pesta aja, ga penting banget di tempat dan konteks begitu mah. Tambah lagi ada sesi ‘magis’, dia ngakunya paranormal sih, jadi peserta disuruh memegang pulpen yang ada talinya, dibiarkan menggantung, lalu dia muter-muter sendiri (dan memang muter). Saya penasaran coba melakukannya di luar sesi dukun tadi, hasilnya: GAK MUTER. Asli lah… manfaatnya apa ya???

3. Memberikan ilmu-ilmu dan informasi yang kurang tepat.
Saya diberikan materi tentang dikotomi otak kiri dan otak kanan. Saya tidak suka, karena sudah pernah baca artikel yang membahas tentang ini secara ilmiah di sini . Ditambah quote dari seorang teman ‘sesuatu yang dibuat dikotomi itu tidak baik’. Lalu materi-materi psikologis yang cukup umum lainnya, ditambah saat itu beliau tidak memberikan anotasi/sumber rujukan dari mana dia mengambil teori-teori itu. Udah makin ancur aja deh reputasi beliau di mata saya hahaha.

4. Nonton video-video yang kurang jelas
Hahah kurang jelas, jelas sih resolusinya mah… tapi dari sisi konten, pokonya waktu itu diberi tontonan xfactor tiongkok dan USA, penampilan yang joged2 sambil ganti baju instan dan anak yatim piatu yang menyanyi bagus. Hahahah gak ngerti deh ini kenapa dia tayangin ke kita (khususnya saya). Ada juga mengambil cuplikan film (ada mungkin 15 menit sampe ngantuk nontonnya), entah itu film apa, pkonya film hollywood jadul tentang kejuaraan basket. Gak jelas sih, lalu beberapa orang disuruh mengambil maknanya (ala2 ospek gitu habis main suatu game pasti ditanya kaka tingkat ‘apa hikmah dari permainan ini? gak boleh sama dengan temannya’)

Yang disesalkan dari proses kegiatan keseluruhan adalah, saya tidak menemukan esensi cara berpikir kreatif dan menyesaikan masalah (yang groundbreaking, sampai ke akar-akarnya). Saya hanya dicekoki materi-materi yang sebetulnya bisa dibilang general dan bisa didapatkan/dibaca sendiri. Tidak ada kesempatan kami para peserta untuk diskusi saling bertukar pikiran, sharing, brainstorming. Huaahh sayang sekali pokonya padahal itu kesempatan untuk ngobrol-ngobrol juga dengan senior dan teman lain dari unik kerja yang berbeda.

Sebenarnya saya ketika itu bukan karena bosan saja (mungkin kesepian? butuh teman, teman hati), tapi ada juga sedikit kekesalan terhadap kebijakan di kantor yang berkaitan dengan komunitas hobi. Daripada berlarut-larut , saya lebih baik melakukan kegiatan lain di luar kantor. Hahaha sudah ada sih sebenarnya, mulai dari aktivitas akademik di dua tempat (tahun depan luluz yeaah), kegiatan tutoring Bahasa Inggris untuk mahasiswa, kegiatan/proyek rencana reuni akbar analis kesehatan dan konferensi mahasiswa TLM Asean di 2016.

Sampai di titik ini, saya mau melakukan banyak hal tersebut karena digerakkan setelah membaca buku-buku dan artikel keren. Memang kebanyakan tulisan orang Amerika, tapi ada juga beberapa yang sudah ada versi Bahasa Indonesianya. Perubahan itu butuh proses yang relatif lama, tidak instan. Kalau pun bisa instan, tidak akan bertahan lama. Jadinya selalu ada semangat untuk menjalani hari meski ada saja hal-hal yang membuat semangat hidup naik dan turun seperti roller coaster hahah.

Iqra! Bacalah

Iqra! Bacalah!

About feriyadiramen

An INTP long life learner

4 comments

  1. auliafaizahr

    wkwkwk ngaqaq, siapa sih ? haha
    coba baca steal like an artist afer ~ simple bahasannya kkk

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: