Almamater yang Kurang Dikenal

Alkisah berawal dari adanya acara rangkaian dalam rangka ulang tahun ke-125, Bio Farma mengadakan seminar di GSG nya pada tanggal 31 Agustus 2015 kemarin yang bertemakan  “Daya Dukung Terhadap Riset dan Pengembangan Produk Life Science di Indonesia”. Peserta-peserta yang diundang adalah internal BF dan beberapa dari luar seperti instansi kesehatan dan perguruan tinggi (PT).

Teman saya yang kebetulan menjadi panitia, mengatakan sudah menyebar undangan ke berbagai PT. Otomatis terjadi percakapan yang kurang lebih seperti ini:

Saya: “Poltekkes Bandung diundang gak?”
Teman: “Udah ngundang Polban tapi gak ada respon.”
Saya: (mempertegas lagi) “Poltekkes… bukan Polban…”
Teman: “Oh beda ya? hahaha perasaan belum ngasih undangan deh. Kirain kamu lulusan polban teknik/analis kimia”
Saya: “hadehh… segitu kampus saya itu health science abis keilmuannya 😭”

Selanjutnya saya minta agar dari almamater jurusan saya bisa dapat undangan dua orang dosen. Akhirnya masih sempat dan bisa, fyuhh.

Begitulah…
antara dia yang kurang pergaulan tentang kampus-kampus di Bandung atau memang almamater saya yang kurang ngetop. Tipis memang, tapi dua variabel itu saling berhubungan, saling menguatkan. Tapi saya lebih menekankan ‘almamater saya kurang ngetop’.

Untuk kita yang satu rumpun, ilmu paramedis/keteknisian kesehatan, baik itu nama sekolahnay poltekkes/stikes/akademi, saya yakin pasti sudah saling mengerti antara satu jurusan sama yang lainnya. Setidaknya tahu secara sekilas “about us” nya. Nah, beda cerita kalau kita berhadapan dengan orang-orang awam/non dunia kesehatan. Coba dulu di lingkaran pertemanan terdekat (teman SMA yang beda tempat kuliah atau teman kantor yang berlatar pendidikan lainnya), apakah ketika kita menyebutkan nama kampus almamater kita, mereka langsung ngeuh dan kenal?

Pengalaman saya sih, beberapa kali, harus menjelaskan ke mereka tentang apa, siapa , bagaimana kami yang lulusan Poltekkes Bandung dan program studi Analis Kesehatan (Teknologi Laboratorium Medik). Terutama apa saja yang kami pelajari di sekolah, yang sebetulnya sangat sayang banyak orang yang belum tahu. Masih jauh kalah populer dibanding profesi allied health lain seperti dokter/apoteker/perawat.

Gereget? Iya tentu, makin gereget pengen koar-koar dan promo apa-siapa kita. Tapi dengan cara seperti apa?

Dari organisasi profesi, PATELKI, sudah berhasil mengadakan pekan teknologi laboratorium medik (teklabmed) di April tahun 2015 ini dan akan diadakan lagi tauun depan, tapi peer nya masih banyak nih sepengamatan saya😛
Dari institusi pendidikan? Ini tergantung kebijakan masing-masing sekolah. Pastinya berkolaborasi dengan mahasiswa juga.
Dari mahasiswa? Rajin membuat kegiatan di luar lingkungan kampus, yang bisa terekspos publik. Berkolaborasi dengan mahasiswa dari berbagai keilmuan, dengan lembaga-lembaga nirlaba/NGO, dan banyak segudang cara kreatif lainnya. Rajin ikut berbagai kompetisi juga lumayan membuat nama dikenal. Dukungan bidang kemahasiswaan di kampus juga memainkan peran penting. Kalau kemahasiswaannya kurang gaul, kalian mahasiswa harus jauh lebih gaul ke luar sana. Dunia masih sangat luas, masih banyak yang bisa dicoba selagi masih muda dan berstatus mahasiswa reguler 😄 sekalian jadi duta almamater. Saya sendiri dulu merasa malu-malu ketika orang bertanya “kuliah di mana?” , karena pasti harus mempersiapkan jawaban selanjutnya yaitu memberikan deskripsi singkat tentang kampus sendiri hehe. Tapi ini harus dilakukan terus biar orang-orang nyaho siapa kita.

Dari alumni? ini dia yang beragam, fase di mana saya berada sekarang. Bisa mulai dari bangga dan mencoba mengharumkan nama almamatermya dengan cara bekerja yang terbaik (sudah seharusnya lah ini mah kan hehe). Bisa juga yang menambah sedikit usahanya dengan cara memperluas pergaulan dan eksistensi di lingkungan kerja internal maupun eksternal. Sering tukar pikiran dan terlibat dalam kegiatan dengan orang-orang yang berlatar pendidikan berbeda dan multi etnis/ras, kata satu penelitian, cenderung membuat kita menjadi lebih kreatif dan terbuka dibanding di lingkungan yang homogen. Bukan berarti kalau homogen gak bagus, tapi boleh dicoba  biar gak bosen hehe.

Saya pun masih belajar untuk melakukan hal-hal di atas. Karena dulu ketika masih mahasiswa reguler D-III ankes, saya termasuk tipe carefree. Lebih cenderung senang mencari kesenangan sendiri tanpa bawa embel-embel almamater atau yang berbau-bau kampus hahah. Nah sekarang berada di lingkungan yang heterogen, baru sedikit ngerti bagaimana pentingnya ‘kerja cerdas’ dan memperkenalkan keilmuan kita. Sambil bantu mempublikasikan nama almamater yang kurang dikenal juga. Hal kecil, namun semoga bermanfaat.

Di Atap Direktorat (Rektorat nya Universitas) Poltekkes Bandung, Jl. Pajajaran Bandung

Di Atap Direktorat (Rektorat nya Universitas) Poltekkes Bandung, Jl. Pajajaran Bandung

About feriyadiramen

An INTP long life learner

7 comments

  1. Seli

    Cie kerennn

    Like

  2. Immanuel

    cie keren lah kang hahahhaha

    Like

  3. keren juga kang, almamater jadi tanda bahwa kita pernah kuliah.

    Like

  4. Halo feriyadiramen. Baik ini opini saya: ‘Kereeen..’ (Wkwkkkkk!!)
    Agak susah mbayangkannya, karena saya sendiri tidak pernah kuliah di kampus yang tidak terkenal (lha wong cuma tamatan SMA heh..heh..) Jadi cuma bisa bilang: ‘Selamat berjuang!’ Tapi terlepas dari hasil promo almamaternya itu sendiri, mudah-mudahan ini menjadi latihan yang baik untuk ‘memasarkan ide’—tentang bagaimana menciptakan ‘pendekatan yang penetratif’ dan membuat ‘gagasan bercokol’ (halaah, bahasanya). Pokoknya: okesip!:mrgreen:

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: