Senior dan Junior

*** Tulisan ini adalah opini yang berasal dari hasil pengalaman pribadi dan membaca berbagai artikel/tulisan orang-orang yang lebih berpengalaman. Jika ada poin yang kurang tepat, mari kita diskusikan di kolom komentar🙂

yang mau intip file presentasi yang saya buat:

PENGENALAN PROGRAM STUDI MAHASISWA

Bulan Juli sampai September setiap tahunnya di Indonesia, menjadi jadwal orientasi murid baru. Saya bilang murid saja, karena bisa mengacu ke murid SMP, SMA, atau perguruan tinggi (dalam Bahasa Inggris juga hanya ‘student’ gak ada istilah ‘super/great student’ seperti mahasiswa di Indonesia hahah). Pasti secara umum sudah terbayang oleh banyak orang, seperti apa sih kegiatan orientasi ini.

Berawal dari membaca tulisan ini dan ini saya jadi terpikir untuk menulis posting ini, karena memang cocok dengan musim ospek seperti sekarang. Tulisan Ibu Novi  mengomentari tentang perbedaan acara TV MasterChef Australia dan MasterChef Indonesia, namun menurut saya beliau lebih membandingkan dengan MasterChef musim pertama dan acara lomba masak lain yang pake marah-marah dan stress tinggi juga hahah (merujuk kepada seseorang). Berikut beberapa kalimat yang ditulisnya:

In Australia, where my children have attended school, new students at primary schools are greeted with warmth and cheerful smiles from the whole school community, while in Indonesia, new students can face a tough orientation with verbal and physical abuse from senior students.

According to teachers I have spoken to in Australia, celebrating the success of others is a value and skill that is trained and emphasised in education here. The skill of celebrating the success of others creates a culture of healthy competition and it can also develop the spirit of collaboration.

The negative focus is a strong part of MasterChef Indonesia as well as in education in Indonesia.  This makes us believe that the culture of competition and collaboration are always located on different poles. 

Persaingan, baik itu dengan yang semuran, lebih tua atau lebih muda, tetap ada sesuatu yang diperebutkan. Jadi masalah ketika persaingan ini tidak sehat dengan berbagai kepentingan di belakangnya, jadi tidak objektif. Tipikal reality show yang banyak bumbu pedasnya, tapi akhirnya jadi kurang mendidik.

Dari sisi hubungan senior-junior pun tidak terbatas hanya di lingkungan sekolah, tapi hingga ke lingkungan kerja. Dari chemistry, experiment, lab, laboratory, medical, physics, research, science, test iconartikel di atas, yang melemahkan kita (orang Indonesia pada umumnya) adalah kurangnya jiwa open-minded sehingga cenderung menolak hal-hal yang berkenaan dengan keberhasilan pihak lain, perasaan sensitif yang mengarah ke banyak berpikir negatif dan khawatir dimanfaatkan pihak lain. Maka dari itu, semangat kolaborasi tanpa bawa-bawa perasaan di antara kita masih relatif kurang jika dibandingkan bangsa lain.

Pesan untuk para senior :

Sifat alamiah seorang yang lebih tua/senior memang ada jiwa merasa kuat, berkuasa, eksis, merasa paling benar haha saya pun sering merasakannya. Tapi saya mohon, do not undermine and humiliate your junior (jangan ngeremehin dan mempermalukan junior mu). Memang junior awalnya tidak tahu apa-apa, tapi seiring berjalannya waktu dan proses, mereka bisa saja menjadi pribadi yang nilainya lebih dari kamu. Mulai dari cara berbicara/komunikasi, kadang sering kelepasan memang mengeluarkan kata dan kalimat yang merendahkan, termasuk memberi perintah dengan bahasa yang super imperatif (memerintah dengan tidak halus), saya pun selalu berusaha memfilter hal ini. Senior pun bisa belajar dari junior, lihat kelebihbuilding, education, school iconan mereka, pelajari dan kembangkan menjadi nilai tambah bagi pribadi kita. Tapi gimana kalau juniornya kurang ajar? haha, gunakan soft power terbaik kita🙂 , yang keras kalau dikerasin lagi akan terjadi benturan yang hebat. Coba kalau jadi peredam, yang keras tadi akan jadi halus/lembut. Mohon jangan melakukan dan hilangkan cara orientasi siswa baru dengan cara-cara feodal, perlakuan-perlakuan itu sudah cukup dirasakan para pendahulu kita di masa peperangan. Sekarang bukan zaman perang fisik lagi, tapi perang ideologi, inovasi, dan kecerdasan🙂

Pesan untuk para junior :

Hal-hal klise tentang sikap junior ke senior pasti sudah pada tahu lah ya. Mau menambahkan saja, kadang sebagai junior rasa percaya diri kita melempem jika berhadapan dengan senior, dari rasa pede itu sendiri dakan merembet ke banyak hal. Jadi jangan malu-malu atau tidak pede, tunjukkan pesona mu, keep your chin up :p tapi harus pintar-pintar lihat situasi kondisi juga oke. Kita pasti sangat bisa belajar banyak hal dari senior, terutama masalah pengalaman, udah paling juara kalau tanya beginian ke senior. Tapi terkadang, pengalaman-pengalaman itu sulit atau tidak bisa diterapkan di zaman situasi kondisi yang berbeda (dahulu dan sekarang). Lagi-lagi kemampuan menempatkan diri, adaptasi, hingga mengambil keputusan sendiri memang harus diandalkan.

Sekian

IMG_7841

About feriyadiramen

An INTP long life learner

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: