Teknologi Genetik

Udin didiagnosa menderita diabetes tipe I (disebut juga insulin-dependent diabetes mellitus) ketika ia berusia 13 tahun. Sejak itu, dia mulai menerima injeksi insulin secara rutin, sebuah hormon protein yang normalnya dibuat sel-sel di organ pankreas. Pankreas Udin tidak dapat memproduksi hormon ini sehingga memerlukan suntikan insulin secara rutin.

Dari mana sebenarnya insulin buatan ini?

Biology 2nd edition, Mc Graw Hill’ unit 3, part 20, Genetic Technology

Biology 2nd edition, Mc Graw Hill’ unit 3, part 20, Genetic Technology

Jawabannya dari bakteri Escherichia coli yang secara genetik sudah dimodifikasi untuk mensintesis hormon yang identik dengan insulin manusia. Inilah salah satu manfaat dari teknologi DNA rekombinan, sebuah teknik laboratorium untuk mengisolasi dan memodifikasi fragmen sebuah DNA. Sebenarnya ini sudah bukan teknologi baru lagi karena di tahun 1970, dua kelompok dari Universitas Stanford: David Jackson, Robert Symons, and Paul Berg; and Peter Lobban and A. Dale Kaiser, berhasil membuat molekul DNA rekombinan pertama di dunia.

Mereka berhasil mengisolasi mengisolasi dan memurnikan bagian-bagian/pieces DNA di dalam tabung reaksi dan secara kovalen menghubungkan dua atau lebih fragmen DNA. Lalu, molekul-molekul DNA tersebut dimasukkan ke sel hidup (sel host). Dalam sel host, molekul DNA rekombinan tadi akan bereplikasi untuk memproduksi banyak salinan/copies yang identik. Karena molekul rekombinan seperti itu biasanya memiliki gen target tertentu (particular gene of interest), proses ini disebut gene cloning.

diambil dari buku teks ‘Biology 2nd edition, Mc Graw Hill’ unit 3, part 20, Genetic Technology yang sudah saya rangkum dan modifikasi

 

Itu baru secara konsep umum tentang teknologi DNA rekombinan. Masih banyak ilmu dan teknik laboratorium yang jauh lebih spesifik untuk menemukan gen-gen yang spesfik itu. Untuk aplikasi dan penggunaan secara umum di ranah biomedis, pasti sudah tidak heran dengan yang begini, tapi apa mahasiswanya (khususnya mahasiswa Teknologi Laboratorium Medis, TLM) sudah paham dan mengerti teknik ini? Jujur saya pun belum pernah melakukan secara langsung, hanya teori dan teori, belum berkesempatan melakukannya haha. Sebenarnya saya lebih tergerak untuk mengetahui aplikasi dan pengembangan teknik ini untuk menghasilkan produk-produk gene-256biomedik: diagnostik, terapeutik, atau profilaktik yang murah dan efektif. Kalau sudah berbicara dari arah hulu (laboratorium penelitian/life science start-up) ke hilir (manufaktur/industri) pasti panjang dan menarik. Tapi melihat tren belakangan ini, perkembangan teknologi banyak muncul dari life science start-up terutama di negara-negara dengan lingkungan riset dan pengembangan yang sangat mendukung.

 

Sementara itu, di luar topik teknis tentang gen dan komponennya…

lab, microscope, research, science, testing icon

Belakangan saya sering membuka halaman internet yang berkaitan dengan pengembangan ilmu hayati ini. Awalnya dari menonton acara Somewhere Street NHK World yang jalan-jalan di Utrecht – Belanda, jadilah saya penasaran dengan kota ini. Masuklah saya ke laman web Universitas Utrecht, klik-klik ke program master yang berkaitan dengan life science, dan ternyata ada program studi ‘Infection and Immunity’ wah ini cocok banget hehe. Lewat yang barusan, dari web itu saya jadi mengetahui keberadaan institusi-institusi dan organisasi-organisasi menarik yang berhubungan dengan pengembangan kesehatan dan life science, diantaranya: Utrecht Science Park, Immunovalley, Intravacc, Utrecht Life Science, Bio-economy Horizon 2020.

Setelah baca dan mendapatkan banyak informasi dari nama-nama di atas, saya selalu msedikit menyimpulkan, “pengembangan dan berjalannya kegiatan/proyek terlihat begitu mudah dan penuh dukungan dari semua pihak yang berkepentingan”. Entahlah lah ini mungkin cuma kesoktahuan saya saja dari sekedar baca-baca dokumen pendukung, sepertinya sistem dan lingkungan pengembangan menuju era life science dan bioeconomy di sana benar-benar sudah disiapkan baik dari organisasi swasta, penelitian dan pengembangan, industri, hingga pemerintahnya sudah satu paket. Memang kejam dan sulit jika membandingkan langsung dengan kondisi Indonesia, bahkan di Kota Bandung sendiri pun.

Tapi selentingan saya membaca tentang rencana pembangunan area summarecon/teknopolis oleh pemerintah Kota Bandung, yang memang Kang Emil terinspirasi dari Silicon Valley nya California, ada tertulis tentang ‘Biopolis’. Langsung lah mencari tentang istilah ini. Ternyata memang satu tipe atau sejenis Utrecht Science Park yang memang sudah ada di Utrecht sana. Jangankan jauh-jauh ke Utrecht, di Singapura juga sudah ada. Waduh… Singapura… serius sekali memang mereka ini. Perkembangan suatu inovasi dan terobosan bukan karena hanya keberadaan orang cerdas saja, tapi perpaduan antara: sekelompok orang cerdas, lingkungan/atmosfir yang cocok, dan dukungan dari pihak-pihak lain (quadruple synergy: academic, business, government, people). Hikmahnya, saya makin penasaran dengan pengembangan Bandung Technopolis ini, tapi lebih penasaran ingin belajar dan cari pengalaman di Utrecht sih😛

Maafkan saya yang masih berteori tapi belum dapat melakukan sesuatu yang berarti.

About feriyadiramen

An INTP long life learner

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: