Catatan Tokyo, Mei 2015

Belajar dari orang lain adalah salah satu cara belajar yang paling inspiratif bagi saya. Bukan dengan cara mengikuti kelas-kelas atau seminar berbau inspirasi ‘berbayar’ atau populer, namun hanya dengan memperhatikan karakter dan tingkah laku orang lain, bagi saya dapat memberikan input untuk belajar.

Perjalanan ke negeri jauh (Jepang-Tokyo, 13-18 Mei 2015) yang berbeda budaya dan kebiasaannya semakin membuka pandangan saya. Ada beberapa poin yang menurut saya menarik, berikut rangkumannya:

  1. Tidur di Bandara

Pesawat kami tiba pukul 22:30, ditambah proses imigrasi dan lain-lain, mungkin pukul 23:00 baru bisa agak bersantai. Sempat dapat info kalau bisa tidur di bandara Haneda di lantai 5, ternyata di sana sudah tidak seperti yang diceritakan di blog orang. Akhirnya turun ke lantai 3, ternyata banyak orang-orang yang tiduran di kursi (termasuk orang Jepangnya juga ada). Kebetulan kami ambil tempat di dekat fasilitas mushola (prayer room, 祈祷室 きとうしつ). Untuk masuk mushola, harus menekan tombol untuk menghubungi operator, bisa minta tolong dibukakan pakai bahasa Jepang/Inggris.Ruangannya seperti mushola pada umumnya, dilengkapi dengan keran air untuk berwudhu. Setiap jam ada petugas yang patroli untuk memastikan tidak ada yang menyalahgunakan ruangan tersebut (sepertinya ada yang pernah tidur di situ, sama seperti orang-orang Indonesia yang menjadikan mushola sebagai ruang serba guna)

  1. Bertemu dan Mengobrol dengan Manula Jepang di Imperial Palace

Ketika berfoto-foto di area Imperial Palace, ada seorang kakek yang minta untuk difotokan menggunakan kamera digital miliknya. Kakek yang pakai topi hat ini tidak bilang minta difotokan dalam bahasa Jepang, tapi pakai isyarat saja, kami pun mengerti. Selesai ambil foto, saya mencoba mengajak ngobrol dengan bahasa Jepang seadanya 😅. Beliau bertanya kami datang dari mana, saya jawab ‘Indonesia, Bali no aru Kuni desu’ (Indonesia, negara yang ada Bali nya). Setelah disebut Bali, beliau langsung bilang kalau pernah berkunjung ke sana. Ternyata dia bukan penduduk Tokyo, tapi dari Tokushima, jalan-jalan sendiri. Sayang saya lupa bertanya berapa umurnya, penasaran sekali karena sangat banyak manula yang berjalan-jalan/berwisata seorang diri di Tokyo. Kami berpisah, si kakek mengucapkan kata-kata selamat berlibur dan menikmati Jepang.

  1. Manula yang jalan-jalan ke Mesjid Jami Turki – Tokyo

Di tanggal 15 Mei yang jatuh pada hari Jumat, saya sudah mengalokasikan di dalam itin harus melaksakan solat Jumat di Masjid Jami Turki di dekat stasiun Yoyogi-uehara. Sempat bingung mencari lokasinya karena tidak bawa modem wifi, bodohnya saya tidak menyimpan data cadangan lokasi si mesjid, hanya ada foto mesjidnya saja di file itin. Berbekal Bahasa Jepang yang pas-pasan ini, ada juga ibu-ibu (atau tante-tante ya?) yang tahu lokasinya. Dia bilang ‘Mosku desu ka? koko kara massugu eki no mukou ni’ , syukurlah dia tahu kalau itu mesjid hahah dan petunjuk yang diberikan saya bisa mengerti.

Di dalam masjid, saya bertemu dengan orang Indonesia yang sedang mendapatkan pelatihan dari perusahaannya. Lalu muncullah tiga orang nenek dan seorang kakek, sala satu neneknya pakai kerudung. Tidak ada yang mengerti mereka berbicara apa, kebetulan saya datang dan sedikit menangkap pertanyaan mereka. Intinya bertanya ‘apakah ini pintu untuk wanita? kalau bukan, sebelah mana masuknya?’ mungkin karena mereka melihat seluruh jamaah di dalam masjid itu pria (karena persiapan solat Jumat). Sebetulnya bingung sih, ga ngeri maunya apa nenek-nenek ini hahah. Saya kira mereka mau sholat, ternyata mereka itu hanya berjalan-jalan ingin melihat arsitektur masjid. Nenek yang pakai kerudung sempat saya bilang ‘kirei desu’ lalu dia tersipu-sipu genit gitu hahahah lucu lah pokonya 😂😅

Satu lagi, saya ‘disepet’ (disindir secara halus) oleh orang Turki yang sepertinya anggota DKM disana, kalau ke tempat wudhu itu harus bawa alas kaki masing-masing, this is not Indonesia, brother 😏.

  1. Jaket Tertinggal di Kereta

Ketika perjalan menuju bandara Haneda menggunakan Tokyo Monorail (Sebetulnya gak ada bedanya dengan kereta-kereta lainnya, hanya beda nama dan di dalamnya ada tempat penyimpanan koper/barang) di malam hari, jaket saya tertinggal. Karena gerah, saya lepas jaket, ketika turun dan beberapa detik setelahnya saya menoleh ke belakang, ke kereta yang telah pergi melaju dan melihat sesosok jaket biru saya ikut terbawa pergi. Kecewa, saya injak-injak bumi mengungkapkan kesal ala nobita. Tak pikir panjang saya langsung menuju kantor petugas dan menjelaskan semuanya. Sebagai petugas stasiun di terminal internasional, si teteh Jepang ini sudah sepantasnya bisa berbahasa Inggris. Saya jelaskan semuanya dalam Bahasa Inggris biar jelas (sebetulnya ingin ngetes kemampuan English si teteh), si teteh bertanya tadi turun dari gerbong berapa, ciri jaket seperti apa, dan langsung menghubungi kereta yang saya tumpangi tadi. Akhirnya disuruh kembali ke kantor si teteh sekitar 30 menit lagi. Setelah persiapan check in dll, saya kembali daaan jaket saya sudah kembali ! Yokatta da. Akhirnya merasakan juga sistem lost and found yang keren di negara maju 😭

  1. Anak-anak TK bertopi kuning 

Di taman Ueno, di siang hari yang panas, kami melihat segerombolan makhluk kecil bertopi kuning. Seperti lihat teman-temannya Shinnosuke berkeliaran lengkap dengan gurunya. Teman-teman saya ingin berfoto dengan mereka, akhirnya saya memberanikan diri untuk meminta izin berfoto dengan mereka. Dengan tegas si guru (gak seksi kaya Bu Matsuzaka) bilang DAME YO DAME (GAK BOLEH YA GAK BOLEH) dengan ekspresi agak manyun. Tapi saya paham kalau di Jepang ini, mengambil gambara orang lain harus dengan izin langsung. Yang ini sudah izin tapi tak diberi haha, bu gurunya ingin melindungi anak-anaknya karena takut foto mereka disalahgunakan oleh orang lain apalagi orang asing seperti kami. Lasut memang…

Sekian cerita Tokyo tahap satu. Di posting berikutnya akan ada tips-tips berguna bagi yang ingin melakukan hal anti-mainstream di Tokyo 😉

About feriyadiramen

An INTP long life learner

2 comments

  1. auliafaizahr

    itu yang hilang jaket keren pisan bisa kembali, kalo di indo mah udah ikhlaskeun weh hahaha

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: