Laboratorium Diagnostik Klinik Pertama di Indonesia

Informasi yang saya dapatkan dari vade mecum PT. Bio Farma tahun 1975 ini belum ada konfirmasi atau catatan yang menyatakan sebagai laboratorium diagnostik klinik pertama di Indonesia, atau mungkin adakah tulisan yang lebih tua? Tapi melihat sejarah yang tertulis, saya yakin ini merupakan salah satu yang tertua. Berikut adalah saya hasil terjemahan dan interpretasi oleh saya sendiri beserta lampirkan teks aslinya yang berbahasa Inggris (sudah dirangkum) . Mudah-mudahan ini jadi pengetahuan tambahan tentang sejarah laboratorium klinik di Indonesia (pada saat didirikan, Indonesianya masih bernama Hindia Belanda)🙂. Karena bagaimana pun saya adalah alumni sekolah Teknologi Laboratorium Medik, Medical Laboratory Science/Technology.

 

Pada tahun 1923, ketika Institut Pasteur memulai aktivitasnya di Bandung, sebuah laboratorium diagnostik rutin didirikan. Laboratorium ini tak hanya membantu para dokter dalam membuat diagnosis dan para pemangku kebijakan kesehatan dalam membuat pendekatan secara epidemiologi dan evaluasi penyakit, namun juga memberikan kesempatan kepada Institut Pasteur untuk mendapatkan strain-strain baru mikroorganisme untuk pemeriksaan lanjut atau tujuan-tujuan lainnya. Karena itu laboratorium ini menjadi sangat ‘populer’ dalam waktu yang relatif singkat, dapat dibuktikan dari jumlah spesimen yang dikirim untuk pemeriksaan bakteriologis dan serologis. Perhitungan kasar dari laporan KIRSCH NER pada 1936, menyatakan bahwa kenaikan jumlah spesimen yang diperiksa setiap tahunnya selama periode 1924 hingga 1933 yaitu sekitar 2.000 – 13.000. Ini jelas bahwa 50 tahun yang lalu (dihitung dari ditulisnya artikel ini, 1975), Institut Pasteur sudah menjadi institusi yang tak tergantikan, khususnya dalam kasus epidemik.

Laboratorium klinik rutin ini lambat laun beralih fungsi menjadi Laboratorium Kesehatan Masyarakat untuk Jawa Barat dengan fokus utama pada penyakit smallpox, rabies, dan plague. Setelah masa perang, laboratorium ini menigkatkan aktivitasnya dan bahkan berkembang menjadi pusat rujukan nasional untuk beberapa kelompok bakteri seperti: Enterobacteria termasuk kolera dan koli patogen, Leptospira, dan penyakit-penyakit yang disebabkan virus dan riketsia. Dalam konteks ini, Institut Pasteur tak hanya beraktivitas dengan masalah higiene sepada saat itu serta produksi vaksin, namun juga dapat menyelesaikan dan menjabarkan masalah teknis kesehatan masyarakat dan pencegahannya.

Karena aktivitasnya yang tidak dapat ditinggalkan dan dilakukan dengan kesadaran akan tanggung jawab, khususnya setelah perang, Institut Pasteur kemudian oleh Kementerian Kesehatan diakui sebagai intitusi yang berperan baik sebagai laboratorium kesehatan masyakarat pusat dengan laboratorium rujukannya di banyak bidang. Pelatihan untuk teknisi laboratorium/analis kesehatan dan untuk dokter-dokter serta ahli di bidang sains lainnya untuk menjadi ahli mikrobiologi juga telah dilaksanakan oleh Bio Farma

*Foto-foto jadulnya akan diunggah menyusul… mudah-mudahan bareng dengan tulisan tentang ‘Sekolah Pendidikan Analis’

 

In 1923, when Pasteur Institute started its activities in Bandung, a routine diagnostic laboratory was added. This laboratory has been not only aid for the medical practitioner in making his diagnosis and for the health officials in making epidemiological approach and evaluation of a disease but also given the opportunity to the institute to obtain new and fresh strains for further examinations and other various purposes. That this laboratory became very “popular” within a relative short time, could be proved by the number of specimens sent for bacteriological as well as serological examinations. Rough calculation of KIRSCH NER’s report in 1936 revealed that the increase of the number of specimens examined every year during the period of 1924 till 1933 was between 2,000 – 13,000. It is clear that even about 50 years ago, Pasteur Institute had become an indispendable institution, especially in cases of epidemics.

This routine diagnostic laboratory has gradually evolved into a Public Health Laboratory for West-Java with its main interest in smallpox, rabies, and plague. After the war, it increased its activities and it even developed into a National Reference Centre for, i.e. Enterobacteria including cholera and pathogenic coli, Leptospira, Viral, and Rickettsial diseases. In this way, Pasteur Institute has not only a constant with the current hygienic problems as far as the production of vaccines and other immunising agents is concerned, but it also can solve and elucidate practical problems of public health and preventive medicine.

Because of its undeniable activities, which were done with concious responsibility, especially after the war, the institute was soon acknowledged by the Ministry of Health as well-approved institution and was able to act as a Central Public Health laboratory with its reference laboratories in many fields. A training laboratory for laboratory technicians and for doctors and other masters of science to become microbiologist has also been established by Bio Farma

 – Taken from: Vade Mecum of Bio Farma, 1975 –

About feriyadiramen

An INTP long life learner

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: