Apapun Itu

Dulu, sangat tertarik dengan hal-hal yang berbau ‘medical laboratory sciences’, tepatnya ketika masih tingkat 1 kuliah sampai pertengahan tingkat 2. Semakin ‘matang’ dan banyak tahu tentang seluk-beluknya, ternyata semakin menipis. Akhirnya saat ini tidak terlalu memperhatikan, malah cenderung ingin lintas jalur ke dunia bioteknologi.

Saya pikir apapun itu, walau tidak berkontribusi secara langsung di dunia profesi, masih bisa lewat jalan lain. Saya masih tetap bercita-cita ingin ke negaranya doraemon dan nobit. Dari situ berusaha menghubungkan cita-cita saya itu dengan karir dan pekerjaan. Saya ingin mengembangkan produk-produk diagnostik cepat lokal asli Indonesia, karena alat dan produk tersebut walaupun terkesan sederhana tapi Indonesia masih saja beli dari negara orang lain. Pastinya harga menjadi jauh lebih mahal, jadinya mereka yang seneng aja jualan ke Idonesia karena pasarnya luar biasa besar. Sejauh ini baru satu pabrikan produk diagnostik cepat di Indonesia, yaitu laboratorium hepatika di Mataram, NTB. Dari beberapa halaman web saya membaca bahwa disana menyuplai alat diagnostik cepat untuk  HIV dan hepatitis B, tidak tangung-tanggung yang memintanya itu orang palng penting di PMI, Bapak Jusuf Kalla.

Ketika saya kerja lapangan di suatu puskesmas di kota Bandung, sayang sekali rasanya melihat alat diagnostik cepat imunokromatografi untuk antibodi IgG IgM Dengue dan NS1 Dengue Antigen (keduanya untuk diagnostik demam berdarah dengue) yang disubsidi oleh dinas kesehatan kota tidak satupun yang terpakai. Kenapa  tidak satupun?? Satu alasan, relatif mahal untuk orang-orang yang datang ke puskesmas, yaitu sekitar Rp 40.000/satu kali tes. Sehingga dokter pun tidak banyak bahkan tidak menyarankan pasien yang datang dengan indikasi demam berdarah untuk periksa dengan alat itu.  Sehingga alat diagnostik tersebut tinggal sekitar satu bulan lagi menuju tanggal kadaluarsanya. Secara harga, untuk pemeriksaan kimia darah pun relatif mahal, yaa lagi-lagi karena impor. Namun berbeda keadaannya dengan tes diagnostik cepat dengue tadi, untuk parameter ‘populer’ seperti gula darah, kolesterol, asam urat, trigliserid, orang-orang rela mengeluarkan uang yang kurang lebih bisa mencapai Rp 60.000 untuk tiga parameter.

Harus bisa memproduksi reagen dan alat diagnostik lokal sepertinya. Dan kembali, butuh pendidikan dan ilmu yang lebih. Minimal pabrik vendor/produsennya ada di Indonesia lah, tapi sampai sekarang kebanyakan nyangkut di Thailand, Singapura, Filipina, jadinya kita ‘jajan’ terus.

一生懸命、頑張ります!

私はその柱か橋かになる

kenbikyou

About feriyadiramen

An INTP long life learner

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: